Ary Ginanjar Agustian, Bulan Suci Momentum Sistem Membangkitkan Mental Pribadi

Ary Ginanjar Agustian Pendidikan Karakter 11

Terhindarnya manusia dari hawa nafsu pada Bulan Puasa dinilai Ary Ginanjar Agustian akan kian menguatkan dan bukan mengurangi aktivitas. Karena itu, Presiden Direktur PT Arga Bangun Bangsa dan pendiri ESQ Leadership Center ini hendak menjadikan datangnya bulan suci Ramadhan sebagai momentum buat menguatkan aktivitas.

Ary Ginanjar Agustian menganggap bahwa kewajiban untuk menahan diri dari lapar, haus, serta hawa nafsu semasa berpuasa, tidak boleh dibuat sebagai sebuah alasan teruntuk setiap Muslim yang lagi menjalankannya untuk mengurangi kegiatan sehari-hari. Menurutnya, seseorang dimana sedang menjalankan ibadah puasa, khususnya puasa Ramadhan, berposisi dalam kondisi yang sangat prima.

“Kemudian, seseorang dimana sedang berpuasa juga jadi menurunkan atau bahkan menekan hawa nafsu yang ia miliki sehingga sudah semestinya seseorang tersebut bisa beraktivitas normal atau bahkan lebih dari aktivitas pada hari lumrah, ” tutur pria dalam lebih dikenal publik seperti seorang motivator ini untuk masyarakat

Contoh konkret yang diambil dari lelaki kelahiran Bandung,termasuk pada waktu pukul 10. 00. Pada waktu tersebut, kata dia, biasanya adalah pekerja akan meluangkan saatnya untuk mencari makan. Sekarang, pekerja tersebut tidak disyaratkan repot mencari makan siang karena sedang berpuasa.

Menurutnya, hal tersebut akan bikin aktivitas sehari-hari menjadi berlimpah efektif dan seseorang mampu melanjutkan pekerjaannya setelah menjalankan ibadah shalat. Sayangnya, gede orang di Indonesia dalam justru menjadikan Ramadhan seperti alasan untuk melarikan data dari tanggung jawab, terlebih pekerjaannya.

Hal itulah dimana menjadi ketidaksetujuan suami dalam Linda Damayanti itu lantaran masyarakat seakan sudah terbiasa dengan kebiasaan tersebut. Lagi-lagi, saat ia mengingat dalam beberapa kejadian besar, yang malah terjadi pada bulan suci Ramadhan, yaitu Perang Badar dan Kemerdekaan Republik Dalam negeri. “Ramadhan bukan sebuah justification untuk mengurangi aktivitas, malah Ramadhan akan menguatkan pencaharian kita, ” ujarnya.

Lulusan Universitas Udayana Bali itu memaknai Ramadhan sebagai salahsatu rangkaian panjang yang bukan terpisahkan untuk pembangunan watak. Makna dari bulan suci Ramadhan tersebut, menurut Ary Ginanjar Agustian, juga sesuai dengan yang diperintahkan oleh Rasulullah, yaitu membangun akhlak, sehingga apa yang didapatkan dari seseorang setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan nanti ialah karakter diri yang fitri.

Maka itu, pria dalam juga sempat menimba ilmu di Tafe College Australia tersebut menegaskan kalau bulan suci Ramadhan tidak sebatas tentang ritual berpuasa ataupun menahan lapar, haus, lalu hawa nafsu, tetapi pun sebagai momentum untuk membentuk dan membangun karakter diri yang indah dan fitri. Pria yang sudah telah berpuasa sejak di bangku sekolah dasar itu jua menyayangkan jika seseorang cuma memaknai Ramadhan sebagai ritual.

Pengalaman menjalani bulan suci Ramadhan di Makkah, belasan tahun yang lalu, menjadi Ramadhan yang paling seolah-olah bagi pria yang akan mengajar mata kuliah strategi pendidikan karakter di Universitas Negeri Yogyakarta tersebut. Saking berkesannya, selama 10 setahun belakangan, ia selalu berjuang meluangkan tenaga dan sewaktu untuk menjalankan ibadah puasa pada awal Ramadhan di Makkah.

Mendekatkan diri untuk Allah SWT, mendirikan shalat Tarawih, menjalankan puasa, serta berusaha menyucikan hati benar di depan Ka’bah, memerankan momen yang paling seolah-olah bagi perancang konsep Typically the ESQWAY 165 tersebut. Bervariasi alasan yang membuatnya kerap ingin kembali ke Tanah Suci tersebut, ditambah jadi karena ia bisa amat fokus dalam beribadah lantaran merasa lebih dekat akan Allah SWT.

Meski amet, penyuka timun suri di sini. menyebut kalau Ramadhan tahun ini memang menjadi tantangan yang berat, baik melalui ekonomi maupun sosial. Situasi itu disebabkan kondisi masyarakat yang sedang dirundung melimpah masalah, di antaranya, persoalan narkoba dan buruknya meaningful atau karakter dari setiap individu. Maka itu, Ary berharap agar nilai-nilai yang ada dalam diri manusia mampu menghadapi permasalahan ini.

Ary juga memanfaatkan bulan suci Ramadhan sebagai push spesial bersama keluarga di dalam melaksanakan shalat Tarawih. Ia selalu berusaha meluangkan masa untuk melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di rumah bersama-sam anak dan istrinya. Momen istimewa lainnya bersama keluarga yang ia rasakan jaman bulan suci Ramadhan yaitu menikmati santap sahur bersama yang dianggapnya sebagai kesempatan terbaik selama sepanjang setahun.

Peraih penghargaan Tokoh Perubahan Republika 2005 tersebut jua mengimbau umat Islam tuk tidak menyia-nyiakan Ramadhan, kecuali untuk menghasilkan karakter sendiri yang lebih baik sebagai orang. Baginya, Ramadhan adalah kesempatan latihan yang diberikan oleh Tuhan yang wajib dimanfaatkan sebagus mungkin karena tidak nyata jaminan kalau seseorang itu bisa bertemu dengan Ramadhan pada waktu yang jadi datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *